Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 03 Desember 2011

Sejarah Sunan Muria

Sejarah Sunan Muria

Sunan Muria

Sunan Muria atau yang nama aslinya Raden Umar said adalah putra Dewi Saroh (adik kandung Sunan Giri). Dewi Saroh dan Sunan Giri merupakan putra dari Syeh Maulana Ishaq, jadi Raden Umar said merupakan cucu dari Syeh Maulana Ishaq. Ayah Raden Umar Said adalah sunan Kalijaga ( Raden Syahid ). Nama kecilnya yaitu Raden Prawoto yang diambil dari daerah tempat tinggalnya. Tempat tinggal terakhir Raden Prawoto / Raden Umar Said adalah di lereng gunung Muria  +  18 km ke utara dari kota Kudus.

Gaya dakwah Sunan Muria banyak mengambil cara ayahnya (sunan Kalijaga), namun berbeda dengan sang ayah. Ia lebih suka tinggal di tempat terpencil jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata sambil mengajarkan ketrampilan bercocok tanam, berdagang, dan melaut adalah kesukaannya. Wilayah dakwahnya meliputi Jepara, tayu, juana, pati dan sekitar Kudus.  

Ia sering jadi penengah dalam konflik internal di kesultanan demak ( 1518 – 1530 ). Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya. Solusi yang ia tawarkan dalam memecahkan masalah selalu dapat diterima oleh semua pihak yang sedang berseteru.

Keistimewaan Sunan Muria :
1.      Mempunyai kemampuan memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya, dengan solusi pemecahan yang dapat diterima oleh semua pihak.
2.      Mampu menggubah lagu Sinom dan Kinanthi, sebagai salah satu metode dakwahnya.
 
SUNAN MURIA Raden Umar Syaid, atau Raden Said yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria, adalah termasuk salah seorang dari kesembilan wali yang terkenal di Jawa. dalam riwayat dikatakan, bahwa beliau adalah putera dari Sunan Kalijaga, nama kecilnya ialah Raden Prawoto, dalam perkawinannya dengan Dewi Soejinah putri Sunan Ngudung. jadi kakak dari Sunan Kudus, Sunan Muria memperoleh seorang putera yang diberi nama pangeran santri, dan kemudian mendapat julukan dengan : Sunan Ngadilungu.
Sunan Muria juga terhitung salah seorang penyokong dari kerajaan Bintoro yang setia, disamping ikut pula mendirikan masjid Demak., semasa hidupnya dalam menjalankan dakwah ke-Islam-an, yang menjadi daerah operasinya terutama adalah di desa-desa yang jauh letaknya dari kota pusat keramaian. beliau lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa, bergaul serta hidup di tengah-tengah rakyat jelata, sunan muria lebih suka mendidik rakyat jelata tentang agama Islam 


Disepanjang lereng Gunung Muria yang terletak 18 km jauhnya sebelah utara kota Kudus sekarang. Cara beliau menjalankan dakwah ke-Islam-an, adalah dengan jalan mengadakan kursus-kursus terhadap kaun dagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata, beliaulah kabarnya yang mempertahankan tetap berlangsungnya gamelan sebagai satu-satunya sebagai seni jawa yang sangat digemari rakyat serta dipergunakannya untuk memasukkan rasa ke-Islam-an ke dalam jiwa rakyat untuk mengingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Disamping itu beliau adalah pencipta dari gending "sinom dan kinanti". Kini beliau dikenal dengan sebutan Sunan Muria, oleh karena beliau dimakamkan diatas gunung Muria, termasuk dalam daerah kerajaan Kudus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar